SAMPANG, JATIMUPDATE.COM — Pernyataan Gus Hamid Amjad, yang dikenal dengan sapaan Ra Hamid, mengenai polemik gerai Indomaret di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, mendapat tanggapan dari Ra Hasan, tokoh yang dijuluki “Macan Madura”.
Ra Hamid sebelumnya menyampaikan harapannya agar ada tokoh sepuh yang berwibawa dan berkarisma di Pamekasan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa peristiwa yang terjadi tidak serta-merta mencerminkan pemahaman pondok pesantren maupun para santri, Juma’at (09/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Ra Hamid melalui akun TikTok miliknya, @gus_hamid_amjad Dalam rekaman yang beredar, ia mengaku merasa malu sebagai orang Madura sekaligus warga Pamekasan atas persoalan yang berkembang.
“Saya berharap di Pamekasan ini ada salah satu tokoh yang berwibawa, berkarismatik, yang sepuh, memberikan pernyataan bahwa kejadian saat ini bukan berangkat dari pemahaman pondok pesantren ataupun dari santri,” ujar Ra Hamid.
Ia mengkhawatirkan persoalan tersebut dapat mencemarkan nama baik pondok pesantren, khususnya di Madura dan Kabupaten Pamekasan.
“Saya cuma berharap saja. Siapa saya? Saya masih anak-anak. Kalau pernyataan keluar dari saya, tentunya akan banyak pertentangan, karena saya adalah orang kecil,” ungkapnya.
Ra Hamid kemudian menegaskan bahwa dirinya juga merupakan orang Madura dan warga Pamekasan sehingga merasa malu atas peristiwa yang terjadi.
Ra Hasan Nilai Pernyataan Malu Kurang Tepat
Menanggapi pernyataan tersebut, Ra Hasan menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai ungkapan malu sebagai orang Madura lebih tepat jika dikaitkan dengan persoalan lain yang sebelumnya menjadi sorotan, yakni kasus yang melibatkan para lora. Sementara itu, menurutnya, penggunaan ungkapan serupa dalam polemik Indomaret di Panaan kurang tepat.
Dalam tanggapannya yang ditujukan kepada Ra Hamid, Ra Hasan terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf sebelum mengutarakan pendapatnya.
“Menurut pendapat saya, lebih baik dan lebih patut panjenengan berstatemen di kasus lora kemarin, masalah lora-lora. Saya malu sebagai orang Madura, ini lebih patut,” ujar Ra Hasan dalam tanggapannya.
Ia kemudian menjelaskan alasan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan malu sebagai orang Madura dalam konteks polemik gerai Indomaret di Panaan.
Menurut Ra Hasan, keberadaan gerai Indomaret di berbagai wilayah Madura perlu menjadi bagian dari pertimbangan sebelum seseorang menyampaikan penilaian terhadap persoalan tersebut.
Ia mempertanyakan mengapa polemik pendirian gerai di satu lokasi harus menjadi alasan untuk menyatakan malu sebagai orang Madura, sementara gerai serupa berdiri di berbagai wilayah lainnya.
“Coba panjenengan hitung dari sebelah barat Madura sampai ujung timur Madura, berapa Indomaret yang berdiri? Kenapa harus malu? Hanya di tempat itu saja yang tidak boleh dibangun gerai Indomaret maupun Alfamart,” tuturnya.
Ra Hasan menilai persoalan tersebut perlu dipahami secara menyeluruh, termasuk alasan masyarakat setempat menolak keberadaan gerai tersebut. Karena itu, ia mengingatkan agar penilaian tidak hanya berfokus pada peristiwa yang terjadi di lapangan, tetapi juga mempertimbangkan latar belakang yang memicunya.
Minta Semua Pihak Turun ke Lapangan dan Tabayun
Lebih lanjut, Ra Hasan mengingatkan para tokoh, pembuat konten, maupun pihak yang ingin menyampaikan kritik melalui media agar terlebih dahulu melakukan observasi dan tabayun.
Menurutnya, mencari informasi secara langsung dari masyarakat serta berdialog dengan tokoh setempat merupakan langkah penting untuk memperoleh gambaran yang utuh.
“Sebelum kita mengeluarkan pernyataan ke media, harus observasi, investigasi, sosialisasi dulu. Turun ke lapangan, turun ke tempat itu, cari tokohnya, cari orang yang lebih paham dengan duduk perkaranya. Tabayun, ngobrol sama mereka,” tegasnya.
Ia juga mengajak semua pihak menghubungkan informasi yang diperoleh di lapangan dengan pengetahuan dan pemahaman masing-masing, tanpa memandang persoalan hanya dari satu sisi.
Ra Hasan menekankan bahwa tindakan masyarakat tidak dapat dinilai secara utuh apabila latar belakang yang melandasinya tidak turut dikaji.
“Jangan lihat waktu pengerusakan saja, maka kita harus mengkaji mengapa itu sampai terjadi oleh masyarakat,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ra Hasan mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh dalam memahami polemik Indomaret di Panaan. Meski demikian, penjelasan mengenai alasan penolakan masyarakat tetap perlu didasarkan pada keterangan para pihak terkait dan fakta yang terverifikasi.
Ingatkan Ulama agar Kompak dan Tidak Memicu Perpecahan
Dalam bagian lain tanggapannya, Ra Hasan juga menyampaikan pesan kepada para pembuat konten, ustaz, dan ulama yang ingin mengkritisi atau memberikan tanggapan terhadap polemik Indomaret.
Ia mengingatkan agar pernyataan yang disampaikan tidak membuka ruang bagi pihak lain untuk melontarkan ucapan yang merendahkan ulama.
“Jangan memberikan peluang kepada orang lain atau kepada orang awam yang kemudian mengatakan hal-hal yang merendahkan ulama yang lain,” ujarnya.
Ra Hasan kemudian mengajak para ulama untuk menjaga kekompakan dalam menyikapi persoalan yang berkembang di masyarakat.
Ia mengaku bukan ulama dan tidak menganggap dirinya sebagai tokoh agama, tetapi menyebut dirinya sebagai pecinta ulama, habaib, dan kiai yang menurutnya berada di jalan yang lurus.
“Saya bukan ulama, bukan siapa-siapa, tapi saya adalah pecinta ulama, habib dan kiai yang lurus. Insyaallah saya siap mengawal ulama, habib yang lurus,” pungkasnya.
Polemik ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan dalam menyikapi persoalan gerai Indomaret di Panaan. Di satu sisi, Ra Hamid mengkhawatirkan dampak peristiwa tersebut terhadap citra pondok pesantren dan santri Madura. Di sisi lain, Ra Hasan menekankan pentingnya memahami akar persoalan, melakukan tabayun, serta menjaga kesantunan dalam menyampaikan kritik.
Kedua pandangan tersebut perlu ditempatkan sesuai konteksnya. Adapun duduk perkara polemik gerai Indomaret, termasuk alasan penolakan masyarakat dan kronologi peristiwa, tetap perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait agar pemberitaan memberikan gambaran yang berimbang kepada publik.
