JatimUpdate.com — Batu (27 Desember 2025), Momentum libur Natal dan Tahun Baru biasanya identik dengan rehat, rekreasi, atau berkumpul bersama keluarga. Namun suasana berbeda justru terasa di sebuah ruang pertemuan di kawasan Kota Batu, Sabtu siang. Puluhan pengusaha muda dari Malang Raya memilih mengisi masa libur akhir tahun dengan kegiatan reflektif yang sarat makna, membedah strategi budaya perusahaan sekaligus menguatkan kepedulian sosial. Kegiatan ini menjadi ruang bertemunya gagasan bisnis, nilai kepemimpinan, dan empati kemanusiaan dalam satu rangkaian acara yang hangat namun substansial.
Berlokasi di VIP Room Warung Sangguran, Jalan Ir. Soekarno, Beji, forum ini menghadirkan Budi Santoso atau yang lebih dikenal sebagai Coach Busan. Sosok yang kini menjabat sebagai Head of HR People Services PT Rentokil Initial Indonesia itu hadir bukan sekadar sebagai pemateri, tetapi sebagai fasilitator diskusi yang mengajak peserta melihat ulang makna budaya perusahaan dari sudut pandang yang lebih membumi. Sekitar 30 pengusaha muda dari berbagai sektor usaha tampak larut dalam dialog yang tidak hanya berbicara soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang nilai, karakter, dan arah jangka panjang organisasi.
Dalam suasana yang cair namun serius, Coach Busan menekankan bahwa budaya perusahaan tidak lahir dari jargon atau tulisan indah di dinding kantor. Budaya tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, dari keputusan kecil yang diambil pemimpin, hingga cara sebuah tim menyikapi tantangan. Ia mengajak peserta untuk jujur melihat praktik yang selama ini berjalan di perusahaannya masing-masing, lalu bertanya apakah nilai yang diyakini benar-benar tercermin dalam perilaku organisasi. Diskusi pun berkembang menjadi ruang refleksi kolektif, di mana para pengusaha saling berbagi pengalaman, kegagalan, sekaligus pembelajaran.
Budaya Perusahaan sebagai Arah dan Identitas Bisnis
Salah satu benang merah yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya budaya perusahaan sebagai kompas organisasi. Di tengah dinamika bisnis yang cepat berubah, budaya menjadi penentu apakah sebuah perusahaan mampu bertahan, beradaptasi, dan tumbuh secara sehat. Coach Busan menyoroti peran pemimpin sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pengambil keputusan. Menurutnya, konsistensi sikap pimpinan akan menentukan apakah budaya yang dibangun menjadi kekuatan atau justru sekadar formalitas.
Para peserta tampak menyadari bahwa tantangan terbesar bukan pada merumuskan nilai, melainkan pada keberanian untuk menjalankannya secara konsisten. Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, muncul kesadaran bahwa budaya perusahaan yang kuat justru menjadi fondasi dalam mengelola sumber daya manusia, membangun loyalitas tim, dan menjaga kepercayaan pelanggan. Banyak peserta mengakui bahwa selama ini fokus pada target dan angka sering kali membuat aspek budaya terpinggirkan, padahal dampaknya sangat besar dalam jangka panjang.
Forum ini juga menjadi ruang aman untuk berbicara tentang realitas di lapangan. Mulai dari kesenjangan antara visi pemilik dan pemahaman karyawan, hingga tantangan menerapkan budaya di perusahaan yang sedang bertumbuh cepat. Dengan pendekatan yang lugas dan berbasis pengalaman praktis, Coach Busan mengajak peserta untuk tidak takut melakukan evaluasi budaya secara berkala. Bagi para pengusaha muda, sesi ini menjadi pengingat bahwa membangun bisnis bukan hanya soal sistem dan strategi, tetapi juga soal manusia dan nilai yang menyertainya.
Refleksi Bisnis yang Berujung pada Aksi Kemanusiaan
Hal yang membuat kegiatan ini terasa berbeda adalah muatan sosial yang menyertainya. Di tengah diskusi strategis tentang budaya perusahaan, para peserta sepakat menjadikan forum ini sebagai sarana berbagi. Seluruh dana kontribusi yang terkumpul dari peserta disalurkan untuk membantu korban bencana alam di Aceh dan Sumatera. Keputusan ini disambut dengan antusias, karena selaras dengan semangat bahwa pengusaha tidak hanya bertanggung jawab pada bisnisnya, tetapi juga pada lingkungan sosial yang lebih luas.
Aksi sosial tersebut menjadi simbol bahwa nilai empati dan kepedulian tidak berhenti pada wacana. Bagi para pengusaha muda Malang Raya, berbagi di tengah libur akhir tahun menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menguatkan rasa kemanusiaan. Mereka menyadari bahwa keberhasilan usaha juga membawa tanggung jawab moral untuk hadir membantu sesama, terutama di saat-saat sulit akibat bencana.
Kegiatan ini pun diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak ruang diskusi serupa di Malang Raya. Tidak hanya sebagai ajang belajar strategi bisnis, tetapi juga sebagai wadah membangun ekosistem pengusaha yang berkarakter, berempati, dan berorientasi pada dampak jangka panjang. Dengan memadukan refleksi bisnis dan aksi sosial, para pengusaha muda menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan.

Menutup acara, suasana keakraban terasa kental. Tidak ada kesan seminar formal yang kaku, melainkan pertemuan komunitas yang saling menguatkan. Di tengah libur Nataru, para pengusaha muda ini pulang membawa lebih dari sekadar catatan materi. Mereka membawa refleksi, kesadaran baru tentang budaya perusahaan, serta keyakinan bahwa bisnis yang sehat adalah bisnis yang bertumbuh bersama nilai dan kepedulian sosial.






