SAMPANG, JATIMUPDATE.COM — Kurang lebih 1 tahun 8 bulan pasangan Jimad Sakteh memimpin Kabupaten Sampang, janji dan target pembangunan melalui visi “Sampang Hebat Bermartabat Plus”mulai mendapat sorotan. Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Jawa Timur (IC-JATIM), Abd. Rohman, mempertanyakan sejauh mana visi-misi tersebut telah diwujudkan menjadi program nyata yang dapat dirasakan masyarakat, Kamis (29/10/2026).
Abd. Rohman menilai, setelah pemerintahan berjalan lebih dari satu setengah tahun, publik wajar meminta penjelasan mengenai capaian pembangunan. Menurutnya, kritik tersebut bukan sekadar mempertanyakan apakah seluruh program sudah selesai, tetapi meminta pemerintah menunjukkan bukti, progres dan ukuran keberhasilan setiap program yang telah dijanjikan.
“Setelah kurang lebih 1 tahun 8 bulan, masyarakat tentu berhak bertanya. Apa yang sudah terealisasi? Apa yang masih berjalan? Dan apa yang sampai sekarang belum menunjukkan progres yang jelas?” kata Abd. Rohman.
Sorotan tersebut mengacu pada empat misi pembangunan yang menjadi arah pemerintahan Sampang dalam RPJMD 2025–2029, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kehidupan sosial, pembangunan ekonomi inklusif, peningkatan infrastruktur, serta tata kelola pemerintahan yang baik dan inovatif.
Menurut Abd. Rohman, visi dan misi tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen perencanaan atau slogan politik. Pemerintah perlu menyampaikan capaian secara terbuka agar masyarakat dapat menilai perkembangan pembangunan secara objektif.
Salah satu program besar yang turut menjadi sorotan adalah rencana pembangunan rumah sakit terbesar se-Madura yang digagas untuk menjadi pusat atau kiblat rujukan kesehatan di Madura.
“Kalau rumah sakit terbesar se-Madura itu menjadi salah satu program besar, publik perlu tahu sudah sampai mana prosesnya. Lokasinya di mana, sumber anggarannya dari mana, kapan mulai dibangun dan kapan ditargetkan beroperasi?” ujarnya.
Ia menegaskan, pertanyaan tersebut tidak berarti seluruh program dalam RPJMD harus sudah selesai dalam waktu 1 tahun 8 bulan. Namun, pemerintah dinilai harus mampu menunjukkan progres yang terukur, target waktu dan hasil sementara dari program-program prioritas.
“Yang kami pertanyakan bukan mengapa semua program belum selesai. Yang kami pertanyakan adalah progresnya. Jangan hanya bicara visi dan misi, tetapi masyarakat tidak mengetahui apa yang sudah dikerjakan dan apa hasilnya,” tegasnya.
Abd. Rohman juga menyoroti misi pembangunan lainnya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, penguatan ekonomi dan UMKM, pembangunan infrastruktur hingga tata kelola pemerintahan.
Menurutnya, seluruh misi tersebut harus memiliki indikator yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat.
“Kalau memang program berjalan, sampaikan progresnya kepada publik. Kalau masih dalam tahap perencanaan, jelaskan sampai tahap mana. Kritik ini adalah bagian dari kontrol publik, bukan berarti kami menolak pemerintah,” katanya.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Sampang tidak alergi terhadap kritik. Menurutnya, kritik dari masyarakat dan kelompok cendekiawan justru dapat menjadi bahan evaluasi agar pembangunan berjalan sesuai target.
Abd. Rohman berharap Pemkab Sampang membuka data capaian pembangunan secara transparan, mulai dari program yang telah selesai, program yang sedang berjalan, hingga program yang belum terealisasi.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan slogan ‘Sampang Hebat Bermartabat Plus’. Masyarakat membutuhkan bukti dan perubahan nyata,” pungkasnya.
Sorotan IC-JATIM tersebut kini menempatkan pemerintah pada pertanyaan publik yang sederhana namun mendasar: setelah kurang lebih 1 tahun 8 bulan Jimad Sakteh memimpin, sejauh mana visi dan misi tersebut telah berubah dari janji menjadi kenyataan?