Oleh: M. Wildan
PUISI
Bismillahirrahmanirrahim…
Di hamparan sunyi pesantren ini,
kutitipkan raga yang jauh dari pelukan ibu dan ayah, bagai sekeping daun gugur mencari angin yang tepat untuk menuntun jatuhnya ke tanah yang subur.
Az-Zainy, nama yang indah membelah samudera, seperti bunga yang dikenal harum di tanah Ketapang.
Namamu kusemat di penghujung dada,
bagai pelita kecil di tengah gelapnya jalan
pencarian diri yang masih penuh kekurangan.
Aku datang bukan hanya untuk belajar,
tetapi juga untuk menjadi sahabat bagi masyarakat; membantu dalam diam, menyapa melalui amal, meski langkahku masih kikuk di tanah ini.
Kuharap engkau dapat menerimakeadaanku dengan baik, seorang perantau yang masih belajar memahami kehidupan,yang menapaki jejak-jejak para kiai dengan setapak sandal yang belum sepenuhnya lepas dari kaki.
Wahai para kiai, para penghimpun barokah di tanah rantau, aku tahu tak semua akan mudah, seperti malam-malam dingin yang datang tanpa jubah hangat dari pelukan rumah.
Namun, kupilih tetap di sini,karena di sinilah cahaya itu tumbuh,menyusup ke relung hati,
menjadi bekal untuk hari esok yang entah datang dalam bentuk renungan panjang.
Aku ingin belajar tentang arti sabar di balik waktu yang berjalan lambat, tentang ridha dalam setiap amanah, dan tentang ikhlas yang tak akan pernah benar-benar dipahami kecuali melalui pengalaman.
Darul Ulum Az-Zainy, jadikanlah aku bagian dari rahimmu, walau hanya secuil debu yang rela tersapu demi kokohnya bangunan ilmu.
Karena aku tahu, sebuah nama besar bukan sekadar untuk didengar, tetapi harus dijaga, seperti kitab tua yang ditulis dengan tinta air mata.
